Awas, Desakan untuk Menikah Bisa Picu Gangguan Kesehatan Mental
- Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa dilepaskan dari interaksi sosial dengan manusia lainnya.
Namun, dalam kehidupan bersosial kerap ada tuntutan sosial. Tuntutan sosial adalah keinginan atau desakan yang muncul dari standar masyarakat.
"Tuntutan sosial menjadi salah satu pemicu kesehatan mental," ujar Aktivis Kesehatan mental Renggi Ardiansyah dalam acara Kompas Editor's Talks: Apakah Masyarakat Indonesia Sudah Cukup Siap Mental?, belum lama ini.
Hal tersebut karena tuntutan sosial kerap tidak sesuai dengan pendapat diri sendiri dan kenyataan hidup.
Misalnya, tuntutan sosial untuk menikah, di mana semua orang yang memasuki usia tertentu dituntut untuk segera menikah.
Baca juga: Generasi Muda Tunda Menikah, Pernikahan Tak Lagi Prioritas?
Hal ini, kata dia, terutama terjadi di luar kota-kota besar.
"Terutama di daerah kecil (bukan kota-kota besar), banyak orang yang dipaksa atau ada tendensi untuk segera menikah di usia muda," jelas Renggi.
Desakan ini kerap muncul melalui pertanyaan dan komentar dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan menanyakan kapan menikah setiap bertemu.
Seseorang yang belum menikah juga kerap dibandingkan dengan orang lain yang sudah menikah. Apalagi jika seseorang yang telah menikah tersebut memiliki usia yang lebih muda.
"Karena jika tidak menikah nanti respons atau stigma negatif yang mereka terima itu menjadi hal yang membebankan," ungkap Renggi.
Orang yang belum menikah pada usia tertentu dianggap kesepian dan tidak bahagia. Ejekan dan hinaan seperti anggapan tidak menarik bagi lawan jenis juga kerap dilontarkan.
Belum lagi dilabeli sebagai seseorang yang jual mahal, pemilih, tidak mampu bersosial, homoseksual, dan anggapan masih kekanak-kanakan karena belum menikah.
Baca juga: Sering Disepelekan, Pastikan Persiapan Hal-hal Ini Sebelum Menikah
Stigma negatif tersebut membuat seseorang yang belum menikah kerap merasa stres dan mengalami gangguan kesehatan mental.
Mereka kemudian menjadi merasa tertinggal dengan temannya yang sudah menikah, rendah diri, dan depresi, sehingga menarik diri dari lingkungan sosial.
"Padahal untuk bisa menikah itu bukan hanya sekedar kita siap seperti ekonomi dan sosial, namun perlu siap secara mental," ujar Renggi.
Terkini Lainnya
- Cara Mengurangi Limbah Tekstil, Salah Satunya Pakai Baju Selama Mungkin
- Tas Multifungsi Jadi Andalan Putri Marino untuk Tampil Sehari-hari
- Selain Berbahaya bagi Lingkungan, Limbah Tekstil Juga Mengancam Kesehatan
- Bagaimana Cara Mendapatkan Jodoh yang Baik? Mak Comblang Profesional Ungkap Tipsnya
- 4 Alasan Orangtua Ingin Anaknya Nikah Muda, Termasuk Kurang Edukasi
- Ibu yang Nikah Muda Berpeluang Lakukan Kekerasan pada Anak
- Bukan Makanan, Debu Rumah Paling Sering Memicu Kambuhnya Eksim
- Nikah Muda Lebih Berisiko Cerai, Kenapa?
- JMFW 2025, Indonesia Bidik Dominasi Industri Busana Muslim Global
- Penyebab Mukena Berbau Tak Sedap dan Solusinya
- Sunscreen untuk Anak, Lebih baik Physical atau Chemical?
- 5 Pilihan Merek Kebaya Encim Modern, Mulai Rp 250.000
- Cara Tepat Mencuci Mukena Renda agar Tidak Rusak
- 6 Tanda "Yellow Flag" yang Harus Diwaspadai dalam Pernikahan
- 5 Hal yang Bisa Dilakukan di Jakarta Muslim Fashion Week 2025