luxdomini.net

Sehatkah Menyalurkan Kesedihan dan Amarah ke Olahraga?

Ilustrasi olahraga, olahraga 15 menit, olahraga intensitas tinggi untuk menurunkan berat badan
Lihat Foto

JAKARTA, - Beberapa orang menyalurkan kesedihan dan amarahnya melalui olahraga saat sedang patah hati.

Mulai dari berlari, bersepeda, panjat tebing, sampai naik gunung pun dilakukan untuk menghibur diri dan menguras energi.

Kendati demikian, ketika perasaan sedih dan amarah tidak lagi terbendung, apakah aman meluapkan seluruhnya untuk olahraga?

Baca juga:

Olahraga untuk menyalurkan emosi

Terutama, ketika luapan perasaan itu bercampur aduk dan dapat membuat orang kalut.

"Namanya (perasaan) sakit hati ya diselesaikan melalui terapi, konseling, atau berdamai. Ada banyak cara untuk menyelesaikannya, bukan dengan melarikan diri," kata psikolog sekaligus Ketua Lembaga M.eureka Psychology Consultant Meity Arianty STP., M.Psi. saat dihubungi , Senin (8/7/2024).

Menurut dia, setiap orang memiliki cara tersendiri untuk memulihkan perasaan sakit hatinya.

Namun, melakukan kegiatan seperti berolahraga tidak akan menyembuhkan perasaan itu sepenuhnya melainkan hanya sesaat.

Sebab, untuk menyembuhkan perasaan sakit hati yang sesungguhnya adalah berdamai dengan keadaan atau meluapkannya dalam sesi terapi atau konseling.

"Di sisi lain, olahraga baik buat kesehatan. Namun, dilakukannya bukan untuk melarikan diri dari sesuatu karena efektifnya kegiatan itu dilakukan kesadaran penuh untuk kesehatan," ucap Meity.

Baca juga:

Di sisi lain, psikolog klinis sekaligus Pendiri Cup of Stories Fitri Jayanthi, M.Psi. menambahkan bahwa olahraga termasuk bagian dari coping mechanism.

Coping mechanism adalah cara untuk mengatasi kecemasan atau stres agar tidak berlarut-larut.

"Coping mechanism sifatnya bukan spontan, tapi dengan kesadaran penuh bahwa manusia melakukan tersebut untuk dua hal," papar Fitri, Senin.

Pertama, manusia melakukan coping mechanism untuk mengekspresikan emosi yang dirasakan.

Cara mengekspresikannya cukup beragam, mulai dari berolahraga, melukis, sampai journaling atau menulis buku harian.

"Kedua, untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan cara mengubah sesuatu, menerima kondisi tersebut, atau keluar dari keadaan tersebut," lanjut Fitri.

Menurut dia, perasaan kalut tidak akan membuat seseorang membahayakan diri sendiri saat berolahraga.

Sebab, olahraga adalah kegiatan yang memerlukan kesadaran penuh.

Baca juga:

Secara sadar, orang tersebut ingin berolahraga demi meluapkan perasaan sedih dan amarahnya karena patah hati daripada larut di dalamnya.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat