luxdomini.net

Nikita Willy Beberkan Trik Atasi Trauma Makan pada Anak

Aktris Nikita Willy ditemui di daerah Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (7/2/2024).
Lihat Foto

- Anak pertama aktris Nikita Willy, Issa Xander yang sempat mengalami trauma makan seusai melakukan perjalanan panjang bersama kakek dan neneknya ke Jepang.

Ia bercerita, selama berada di sana, Issa diberikan banyak camilan enak. Kakek dan neneknya bahkan menyanyikan lagu jika sang anak mau makan.

Alhasil, saat kembali ke Tanah Air, anaknya mengalami traima makan.

“Akhirnya anak saya jadi trauma, saya tahu karena setiap diduduki di high chair, dia menangis, dia benci makan,” kata Nikita dalam HUT ke-70 IDAI di Jakarta, Sabtu (22/6/2024), seperti dilansir dari Antara.

Baca juga:

Untuk menghilangkan trauma makan tersebut, Nikita melakukan reset week, sebuah cara untuk mendekatkan kembali makanan dengan anaknya selama satu minggu.

Aktris sinetron Safa & Marwah itu menjelaskan, selama reset week ia kembali mempelajari menu-menu makanan yang dapat membuat Issa kembali tertarik untuk makan.

“Kemudian saya kembali ke jendela makan anak. Jadi setelah dua setengah sampai tiga jam itu saya hanya kasih makan. Saya tidak suruh dia untuk makan, hanya berdiri di sampingnya,” kata dia.

Nikita tidak memberikan komentar apapun agar sang anak tidak semakin trauma. Ia hanya fokus memastikan bahwa Issa mau makan.

Menurutnya, Issa akan makan ketika sudah mulai lapar, sama seperti manusia pada umumnya.

Alhamdulillah ini berhasil karena dia mengikuti rasa laparnya. Jadi saat dia lapar, dia makan tanpa henti,” sambung Nikita.

Mencegah anak trauma makan

Pada kesempatan yang sama, Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan penyakit Metabolik IDAI DR. Dr. Titis Prawitasari, SpA(K) mengatakan, anggota keluarga seperti kakek dan nenek memang seringkali secara tidak sengaja berperan sebagai distraktor pada waktu makan anak.

Selain anggota keluarga, hal lain yang dapat mendistraksi anak ketika makan adalah gawai dan aktivitas yang dilakukan orangtua di sekitar meja makan.

Baca juga:

Menurutnya, kebiasaan ini perlu mendapatkan perhatian lebih dengan penanaman disiplin dan edukasi yang permisif.

"Jadi bukan hanya gadget, tapi orang di sekelilingnya bisa mendistraksi, belum kalau tinggal di pinggir gang ada suara telolet, teriakan tukang ketoprak dan lain sebagainya,” ujar Titis.

Trauma makan menurutjya dapat dicegah dengan konsistensi penerapan pola makan, termasuk lebih sabar dalam mempraktikkannya kepada anggota keluarga lain.

Selain itu, Titis juga menyarankan supaya waktu makan anak tidak diberikan dalam waktu yang panjang.

Selain itu, pastikan ruang untuk makan tidak harus tersisih atau sunyi dan senyap.

“Makan is makan, jadi tidak usah panjang-panjang durasinya. Cukup 20-30 menit it’s ok, kalau sudah kenyang kita sudahi, nanti kasih lagi begitu dia lapar,” katanya.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat