luxdomini.net

Mengharapkan Generasi Z Melawan Pembodohan Kesehatan

Ilustrasi Generasi Z menggunakan media sosial
Lihat Foto

Badan pusat statistik mencatat bahwa populasi terbesar kita saat ini dikuasai generasi Z yang lahir antara tahun 1997-2017, sebesar 27.94%. Kelompok milenial (berusia 24-39 tahun) masih tertinggal di bawahnya, 25.87%.

Dengan kata lain, apa pun yang jadi tren, kebutuhan dan hal-hal yang muncul di pasaran ditentukan oleh mereka yang berusia 8-23 tahun pada hari ini.

Dilahirkan dan dibesarkan oleh generasi X yang berada di rentang umur 40-55 tahun, generasi Z disebut Rhenald Kasali mempunyai beberapa karakteristik unik, yang mau tak mau harus dipertimbangkan.

Baca juga: Menuju Indonesia Emas, Saatnya Bergegas Lakukan Perbaikan Gizi

Amat berbeda dengan ibu bapaknya yang pekerja keras formal dan punya “disiplin kerja”, generasi Z yang tadinya dituduh sebagai anak manja konsumtif, ternyata memaknai kerja dari sudut pandang berbeda.

Mereka menganggap diri sebagai orang yang berpartisipasi dalam roda bisnis, ketimbang hanya sekedar “end-user” alias pemakai produk.

Andalkan review dan informasi viral

Dengan memberi ulasan (istilah kerennya “review”) suatu produk bisa melejit atau hancur berkeping-keping di tangan gen Z yang kritis, sekaligus bisa berlaku kejam.

Lebih percaya sesama generasinya, gen Z dengan mudahnya mencaplok berbagai informasi sekaligus kebutuhan hidup dari media sosial, ketimbang berlama-lama belajar seperti generasi sebelumnya yang dianggap kuno, kurang praktis, dan tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Sayangnya, kekurangan informasi dari sumber digital yang tidak didapat dari keutuhan pengetahuan secara komprehensif, membuat 'generasi tunggang langgang’ ini lebih cepat mengunggah kisah menjadi informasi viral yang mudah menyebar, memengaruhi generasi sesamanya.

Mencari jalan pintas

Peluang ini ditangkap peraup cuan untuk menggandeng mereka sebagai “affiliator”, dengan harga lebih murah ketimbang menyewa jasa artis yang mahal.

Sebutlah ibu-ibu muda yang bangga saling memamerkan susu formula anaknya di media sosial, bahkan mereka mengutip frasa yang sama: “demi kewarasan jiwa” ketimbang terpaksa harus menyusui anak, sementara dihantui rasa tidak cukup – membandingkan diri dengan ibu-ibu lain yang ASI perahnya berkantong-kantong berjejalan dalam kulkas.

Baca juga: Seliweran Tontonan Kekinian soal Gizi, Saatnya Nalar Perlu Diajar

Mengambil kata viral “insecure”- bahkan ada ibu muda yang sengaja memerah air susunya agar ketahuan berapa volume Air Susu Ibu yang dia bisa produksi sehari-hari, untuk dicocokkan dengan aturan asupan bayi, agar tidak dehidrasi dan tumbuh optimal sesuai kurva.

Botol, dot, dan alat pompa ASI menjadi andalan, sebab bayi sudah terlanjur dibuat bingung puting begitu kenal dot dan tidak lagi mau menyusu pada ibunya.

Padahal, alam membuat proses menyusui begitu simpel dan sederhana. Gratis. Steril karena tanpa perkakas dan alat bantu minum.

Hanya satu yang dibutuhkan calon ibu sebelum anaknya lahir: belajar menyusui dengan benar dari sumber yang tepat.

Agar pelekatan terjadi sempurna, anak menyusu optimal, dan fokus anak menyusu dijaga agar tidak terjadi distraksi dan gagal fokus saat kemampuan motorik sensorik anak sudah semakin berkembang.

Ilustrasi bayi minum susu dari botol.Freepik/jcomp Ilustrasi bayi minum susu dari botol.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat